Kamis, 13 November 2014

SEBLAK SUPER PEDAS MANIS ASIN GURIH


Pertama kali menginap di rumah kaka di karawang , si kaka ngasih makanan jajanan orang sana yaitu seblak. Awalnya sih agak bingung eh pas dicobaa ternyata enak loh buat cemilan iseng-iseng. Nah disini saya akan ngasih tau bagaimana sih caranya bikin seblak yang pedesnya bakalan gak nahan di mulut. Buat pencinta pedes kaya saya sih pasti bakalan menyoba , yuk guys coba bikin seblak super pedes manis asin gurih :D


BAHAN :
Ø  250 gr kerupuk , rendam air panas sampai melunak, tiriskan
Ø  8 siung bawang merah
Ø  4 siung bawang putih
Ø  20 buah cabe rawit merah
Ø  2 ruas kencur
Ø  4 butir telur
Ø  Ayam goreng yang sudah di suir-suir
Ø  Garam dan penyedap
Ø  Kecap manis dan kecap inggris/saos inggris

CARA MEMBUAT :
1.    Panakan sedikit minyak , tuang telur dan orak arik setengah matang.
2.    Masukkan bumbu bawang merah , bawang putih , cabe rawit merah dan kencur yang telah dihaluskan. Lalu tumis hingga harum dan beri sedikit garam dan penyedap.
3.    Masukan ayam goreng yang telah di suir-suir.
4.    Masukan kerupuk seblaknya , aduk hingga merta.
5.    Setelah itu beri sedikit lagi garam , penyedap , kecap inggris dan kecap manis.
6.    Nah seblak super pedesnya siap di hidangkan untuk 5 orang.

Selamat mencoba yaak ;) 

KARANGAN ILMIAH , NON-ILMIAH , DAN TIDAK ILMIAH

              I.            PENGERTIAN KARANGAN

Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh ke dalam bentuk tulisan yang teratur.

           II.            Macam-macam ,Sifat , dan Bentuk Karangan

A.    Macam-macam Karangan
1)      Karangan Fiksi adalah karangan yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang.
2)      Karangan Faktual adalah karangan yang dibuat berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Karangan faktual biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan informatif. untuk :
v  Karangan ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
v  Karangan informatif adalah karangan yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan.

B.     Sifat-sifat Karangan
1.      Manusiawi   : Ungkapan pemikiran manusia dengan tulisan yang hanya di miliki oleh manusia tersebut.
2.      Pribadi         : Di saat proses menulis karangan tersebut hanya bias dilakukan oleh satu orang dan hasil dari penulisan karangan tersebut adalah cerminan kepribadian satu orang.

C.    Bentuk-bentuk Karangan
Berdasarkan tujuann karangan , bentuk  karangan dibagi menjadi 5 jenis sebagai berikut ini :
1.      Karangan narasi
2.      Karangan deskripsi
3.      Karangan eksposisi
4.      Karangan argumentasi
5.      Karangan persuasi

        III.            Ciri – ciri Karangan Ilmiah
a.       Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
b.      Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup.
c.       Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
d.      Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
        IV.            Ciri-ciri Karangan Non-Ilmiah

1.      Non Teknis Konkrit yaitu Informatif, bernada populer, imajinatif.
2.      Teknis Umum yaitu Informatif,umum, tidak untuk kepentingan pribadi,masalah
secara umum,tidak ada ajakan emosional,konkrit.
3.      Abstrak normal yaitu Informatif, umum, non teknis,Tidak untuk kepentingan
pribadi, populer.
4.      Spesifik Historis yaitu spesifik,sumber sejarah, bahasa dan susunan formal,dll.
5.      Emotif yaitu  sedikit informasi, tidak sistematis.
6.      Persuasif  yaitu cukup informatif , penilaian fakta tidak dengan bukti , bujukan untuk meyakinkan pembaca.
7.      Deskriptif yaitu Informasi sebagian imajinatif dan subyektif , pendapat pribadi , nampaknya dapat di percaya.
8.     Kritik Tanpa dukungan bukti yaitu tidak memuat informasi spesifik , berprasangka menguntungkan ,  formal.

           V.            Ciri-ciri Karangan Ilmiah Populer
ciri-ciri karya ilmiah populer menurut Hakim (2004 : 57) diurutkan sebagai berikut: 
a)      Bahan berupa fakta yang objektif
b)      Penyajian menggunakan bahasa yang cermat, tidak terlalu formal tapi tetap taat asas, disusun secara sistematis; tidak memuat hipotesis.
c)      Sikap penulis tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang meragukan.
d)     Penyimpulan dilakukan dengan memberikan fakta. 



 DAFTAR PUSTAKA

http://bayangzone.blogspot.com/2013/04/perbedaan-karya-ilmiah-populer-dan-non.html

Kamis, 23 Oktober 2014

PENALARAN

      
         Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

B.     Proposisi
Proposisi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh dan utuh.  Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya.  Singkatnya, proposisi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang dapat dinilai benar atau salah. 

Dalam ilmu logika, proposisi mempunyai tiga unsur yakni:
1.      Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat, atau perkara. 
2.      Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam subjek. 
3.      Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat. 

Contohnya kalimat Semua manusia adalah fana. Kata semua dalam kalimat tersebut dinamakan dengan pembilang.Kemudian kata manusia berkedudukan sebagai subyek, sedang adalah merupakan kopula. Adapun predikat di sini diwakili oleh kata fana. 

Skema Proposisi
Adapun penjelasan skema di atas adalah sebagai berikut :
v  Berdasarkan Bentuk
1.      Propisisi Tunggal yaitu Proposisi Tunggal hanya mengungkap satu pernyataan saja dimana hanya didukung satu subjek dan satu predikat (kalimat tunggal). Sebagai contoh kalimat "Setiap manusia akan mati",dalam kalimat tersebut hanya terdapat satu subjek, yakni "manusia", sedang predikatnya berupa "mati".
2.    Proposisi Majemuk yaitu proposisi ini dibentuk dari gabungan dua proposisi tunggal atau lebih dimana kalimat pernyataan ini sekurang-kurangnya didukung dua pola kalimat. Misalnya seperti kalimat "Setiap warga negara harus menyadari hak dan tanggung jawabnya".

v  Berdasarkan Sifat Pembenaran atau Pengingkaran
1.  Proposisi Kategorial yakni menunjuk pada sebuah pembenaran atau pengingkaran yang bersifat mutlak; pasti benar atau pasti salah. Artinya, kebenaran terjadi tanpa syarat. Contoh: Semua orang akan mati.
2.    Proposisi kondisional, yakni proposisi yang menunjuk pada pembenaran atau pengingkaran yang bersyarat atau berupa pilihan. Kategori proposisi kondisional sendiri dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni hipotesis dan disjungtif

v  Berdasarkan Luas Pengertian
1.      Proposisi Universal ialah sebuah proposisi yang mencakup seluruh aspek atau bagian. Hal ini ditandai dengan adanya kata: semua, seluruh, setiap, setiap kali, masing-masing. Sebagai contoh pada kalimat Tidak seorangpun dinegeri ini yang atheis
2.   Proposisi Partikular, yakni yang mengungkapkan sebagian dari seluruh aspek. Kata tugas yang menandai proposisi partikular adalah beberapa, sebagaian, tidak semua, kebanyakan, banyak. Contoh: Tidak semua siswa tekun belajar. Kata "tidak semua" dalam kalimat di atas merupakan proposisi partikular, yakni hanya mencakup sebagian aspek saja.
3.    Proposisi Singular, proposisi ini hanya mengungkap satu aspek saja, di antara penandanya adalah kata ini dan itu. Misal penggunaannya dalam kalimat:Rumah ini akan dijual, kata rumah di sini hanya menunjukkan satu unsur. Jika terdapat dua unsur di dalamnya, maka suatu kalimat tidak bisa disebut dengan proposisi singular.

v  Berdasarkan Kualitas dan Kuantitas
1.    Proposisi A di sini adalah proposisi universal atau singular positif; proposisi yang mengungkap keseluruhan dan pembenaran, pengakuan, atau positif. Contohnya kalimat Meja ini dibuat dari kayu jati".
2.    Proposisi I ialah proposisi partikular aktif; mengungkap sebagian dari keseluruhan pengakuan, pembenaran, atau positif. Sebagaimana contoh dalam kalimat berikut "Beberapa siswa SMU Kebangsaan tekun belajar".
3.      Proposisi E adalah proposisi universal atau singular negatif. Proposisi ini mengungkap keseluruhan pengingkaran, penolakan, atau negatif. Misalnya seperti kalimat "Meja ini tidak dibuat dari kayu jati", kata tidak dalam kalimat tersebut menunjukkan kenegatifan yang berupa pengingkaran.
4.    Proposisi O sendiri adalah proposisi partikular negatif; mengungkap sebagian dari keseluruhan pengingkaran, penolakan, atau negatif.  Contoh: "Beberapa siwa SMU Kebangsaan tidak tekun belejar. 
 Inferensi dan Implikasi
o    Pengertian inferensi yang umum ialah proses yang harus dilakukan pembaca (pendengar) untuk melalui makna harfiah tentang apa yang ditulis (diucapkan) samapai pada yang diinginkan oleh saorang penulis (pembicara).  Inferensi atau kesimpulan sering harus dibuat sendiri oleh pendengar atau pembicara karena dia tidak mengetahui apa makna yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh pembicara/penulis. Karena jalan pikiran pembicara mungkin saja berbeda dengan jalan pikiran pendengar, mungkin saja kesimpulan pendengar meleset atau bahkan salah sama sekali. Apabila ini terjadi maka pendengar harus membuat inferensi lagi. Inferensi terjadi jika proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat pada tuturan yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pendengar atau pembaca dituntut untuk mampu memahami informasi (maksud) pembicara atau penulis. Inferensi terbagi menjadi 2, diantaranya Inferensi langsung dan Inferensi tidak langsung.
1.   Inferensi Langsung yaitu Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
2.      Inferensi Tidak Langsung yaitu Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua / lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-preposisi lama.
o  Implikasi diwujudkan dengan pernyataan “jika-maka” atau juga “if-then“. Implikasi adalah suatu pernyataan logika yang hanya akan bernilai salah ketika sebab bernilai benar DAN akibat bernilai salah. Untuk lebih jelasnya kita lihat tabel kebenaran berikut:
ü    Tetapi kita harus ingat kalau “jika A maka B” tidak sama dengan “jika B maka A” karena alur implikasi hanyalah berjalan satu arah saja.                              
A.   Wujud Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang di hubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan. Data dan informasi yang di gunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi.
                                             
B.     Cara pengujian evidensi :
1.      Cara menguji data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi.

2.      Cara Menguji Fakta
Untuk menguji apakah data informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta atau bukan, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan, sehingga benar-benar meyakinkan kesimpulan yang akan diambil :
a.       Konsistensi
b.      Koherensi

3.      Cara Menguji Autoritas
Menghidari semua desas-desus atau kesaksian, baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental. Ada beberapa cara sebagai berikut :
a.       Tidak mengandung prasangka
b.      Pengalaman dan pendidikan autoritas
c.       Kemashuran dan prestise
d.      Koherensi dengan kemajuan

DAFTAR PUSTAKA