Senin, 02 Mei 2016

TUGAS 5 SEMESTER 8

MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN


A.  Hal Mendasar
Manejemen risiko keuangan memiliki tujuan utama salah satunya untuk meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Risiko pasar terdapat dalam berbagai bentuk,.diantaranya : 1) Risiko Likuiditas timbul dikarenakan tidak semua produk dalam manajemen risiko keuangan dapat diperdagangkan secara bebas. 2) Risiko Kredit merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak manajemen risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya. 3) Risiko Regulasi adalah risiko yang timbul karena pihak otoritas publik melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu. 4) Risiko Pasar merupakan risko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak dapat memperoleh perlakuan pajak yang diinginkan. 5) Risiko Akuntansi adalah peluang bahwa suatu transaksi lindung nilai tidak dapat dicatat sebagai bagian dari transaksi yang hendak dilindungi nilai

B.  Mengapa Mengelola Risiko Keuangan ?
Mengelola risko keuangan dapat meningkatkan pertumbuhan jasa manajemen risiko yang cepat, sehingga manajemen dapat meningkatkan  nilai perusahaan dengan mengendalikan risiko keuangan. Manajemen risiko yang aktif dapat dijelaskan dengan beberapa alasan :
1) Manajemen eksposur membantu dalam menstabilkan ekspektasi arus kas perusahaan. Arus kas yang lebih stabil dapat meminimalkan kejutan laba, sehingga meningkatkan nilai kini ekspektasi arus kas. Laba yang stabil juga mengurangi kemungkinan risiko gagal bayar dan kebangkrutan, atau risiko bahwa laba mungkin tidak dapat menutupi pembayaran jasa utang kontraktual.
2)      Manajemen eksposur yang aktif memungkinkan perusahaan untuk berkonsentrasi pada risiko bisnisnya yang utama. Dengan demikian, suatu perusahaan manufaktur dapat melakukan lindung nilai risiko suku bunga dan mata uang dan berkonsentrasi pada produksi dan pemasaran.
3)        Para pemberi pinjaman pada dasarnya memiliki toleransi risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pemegang saham. Dan pada akhirnya, karena kerugian yang ditimbulkan oleh risiko harga dan suku bunga tertentu dialihakan kepada pelanggan dalam bentuk harga yang lebih tinggi, sehingga manajemen eksposur membatasi risiko  yang dihadapi oleh pelanggan.

C. Peranan Akuntansi
Akuntan manajemen memiliki peranan yang sangat penting dalam proses risiko manajemen. Dalam hal ini, peranan akuntansi membantu untuk mengidentifikasi eksposur pasar, mengkuantifisikasi keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternatif, mengukur potensial yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung nilai tertentu, dan mengevaluasi efektivitas program lindung nilai.
1)        Identifikasi Risiko Pasar
Mengidentifikasi berbagai jenis risiko market berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini dimulai dengan pengamatan atas keterkaitan hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai, yaitu mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang memengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditas dan ekuitas.
2)        Menguantifikasi Penyeimbang
Dalam proses manajemen risiko terdapat proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternatif strategi respons risiko. Manajemen cenderung menyukai untuk mempertahankan beberapa risiko yang dihadapi daripada harus melakukan lindung nilai, dikarenakan biaya perlindungan risiko yang dirasakan lebih tinggi daripada manfaatnya.
3)        Manajemen Risiko di Dunia dengan Kurs Mengambang
Konsep manajemen risiko dan perlakuan akuntansi terkait untuk risiko kurs valas sejalan dengan risiko suku bunga, harga komoditas, dan harga ekuitas. Pengertian risiko kurs valas merupakan salah satu bentuk risiko yang banyak digunakan dan yang sering dihadapi oleh perusahaan multinasional. Dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup : antisipasi pergerakan kurs, pengukuran risiko kurs valas yang dihadapi perusahaan, perancangan strategi perlindungan yang memadai, dan pembuatan pengendalian manajemen risiko internal.
4)      Potensi Risiko Translasi
Potensi risiko translasi menghitung pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang dosmetik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Sebagai contoh, sebuah induk perusahaan AS yang menjalankan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya di Ekuador mengalami perubahan nilai dollar atas aktiva moneter bersih di Ekuador jika nilai tukar sucre Ekuador mengalami perubahan relatif terhadap dollar. Karena jumlah dalam mata uang asing pada dasarnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan kontrol manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi ini menimbulkan dampak seacara langsung terhadap laba yang dilaporkan. Pada akhirnya, potensi risiko translasi dihitung berdasarkan perbedaan antara aktiva dan kewajiban perusahan dalam mata uang asing yang terpapar. Keunggulan antara aktiva terpapar risiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasrkan kurs kini) dapat menyebabkan timbulnya posisi aktiva bersih. Posisi ini seringkali disebut potensi risiko positif. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan keuntungan translasi, sedangkan revaluasi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi.
5)      Akuntansi untuk Produk Lindung Nilai
Pengetahuan atas aturan pengukuran akuntansi untuk derivative merupakan sesuatu yang penting ketika merancang suatu strategi lindung nilai yang efektif bagi perusahaan. Produk lindung nilai kontraktual mencangkup antara lain kontrak forward, future, swap, opsi, dan gabungan dari ketiganya, tetapi tidak terbatas hanya pada keempat hal ini. Perlakuan akuntansi untuk derivatif keuangan yang telah diterima secara internasional adalah menetapkan nilai produk menurut pasar dengan timbul keuntungan atau kerugian yang diakui sebagai bagian dari laba nonoperasi. Setidaknya di AS, terdapat pengecualian dalam bebarpa kasus jika transaksi memenuhi kriteria lindung nilai yang memadai mencakup hal-hal berikut:
a) Pos-pos yang sedang dilindung nilai menimbulkan risiko pasar yang harus dihadapi perusahaan,
b) Perusahaan mendeskripsikan strategi lindung nilai,
c) Perusahaan menentukan instrumen yang akan digunakan untuk lindung nilai,
d) Perusahaan mencatat alasannya mengapa lindung nilai yang dilakukan kemungkinan besar akan efektif dilakukan.
Jika kriteria tersebut dapat dipenuhi, maka perusahaan dapat menggunakan keuntungan atau kerugian yang diakui dari penilaian produk lindung nilai terhadap nilai pasar untuk menghapuskan keuntungan atau kerugian dari transaksi yang dilindung nilai (sebagai contoh penjualan atau pembelian).

D. Lindung Nilai Atas Aktiva, Kewajiban Yang Diakui Atau Komitmen Perusahaan Yang Belum Diakui
Pada tampilan 11-12 menunjukkan ayat jurnal akuntansi untuk kontrak forward mata uang yang baru dijelaskan, dengan mengasumsikan bahwa laporan keuangan disusun pada tanggal 30 September sebelum penyelesaian transaksi dalam peso. Kurs pada tanggal 30 September adalah C$O, 13 = Mp1.

Tampilan 11-12 Lindung Nilai Transaksi dalam Mata Uang Asing
1 Sep                Piutang Kontrak                                                                  C$130.000
                          Diskon tangguhan                                                                    10.000
                                 Utang Kontrak Mp                                                                       140.000
        (Untuk mencatat perjanjian dengan pedagang valas untuk menukarkan Mp                                     1.000.000 yang berharga C$140.000 dengan C$130.000 dalam waktu 3 bulan)
30 Sep             Utang Kontrak                                                                          10.000
                                 Keuntungan Transaksi (lindung nilai)                                           10.000
                          (Untuk mencatat keuntungan transaksi dari nilai ekuivalen dolar yang berkurang                                          atas utang kontrak forward C$0,014- C$0,013 X Mp1.000.000)
30 Sep             Beban diskon                                                                               3.333
                                 Diskon tangguhan                                                                             3.333
                          (Amortisasi diskon tangguhan untuk 1 bulan)
1 Des                Utang Kontrak Mp                                                                    20.000
                                 Keuntungan Transaksi (lindung nilai)                                           20.000
                          (Mencatat keuntungan transaksi tambahan dengan menyesuaikan                                                                        kontrak terhadap kurs kini baru C$0,13- C$0,11 X Mp1.000.000)
1  Des               Beban diskon                                                                              6.667
                                 Diskon tangguhan                                                                               6.667
                          (Amortisasi diskon tangguhan untuk 1 bulan)
1 Des                Utang Kontrak Mp                                                                    110.000
                                 Kas peso Meksiko                                                                               110.000
         (Mencatat penyerahan Mp1.000.000 kepada pemegang valas; uang sebesar                                     Mp1.000.000 diperoleh dari penerimaan piutang dari importir Meksiko)
1 Des                Kas                                                                                              130.000
                                 Piutang Kontrak                                                                                  130.000
                          (Mencatat penerimaan kas sebesar C$130.000 menurut kontrak forward)

E. Lindung Nilai Investasi Bersih Dalam Operasi Luar Negeri
  Sebagai contoh, misalkan suatu perusahaan afiliasi luar negeri di Jepang yang menggunakan tahun kalender AS memiliki posisi kewajiban terpapar bersih sebesar ¥135.000.000 pada tanggal 30 September. Mata uang fungsionalnya adalah dolar. Untuk meminimalkann kerugian translasi yang disebabkan oleh apresiasi yen yang tidak terduga, induk perusahaan AS membeli kontrak forward untuk menerima ¥135.000.000 dalam waktu 90 hari dengan kurs forward sebesar $0.008570. Kurs pada akhir tahun adalah sebagai berikut :
ü Kurs spot 30 September                                                                        $0.008505 
ü Kurs forward 90 hari pada 30 September                                             $0.008570
ü Kurs spot 30 Desember                                                                         $0.008640      

F. Bersepekulasi Dalam Mata Uang Asing
Terdapat banyak cara dalam meningkatkan laba yang dilaporakan dengan menggunakan kontrak forward dan opsi dalam pasar valas. Kontrak forward yang dibeli untuk spekulasi  pada awalnya dicatat sebagai kurs forward. Keuntungan atau kerugian transaksi yang diakui sebelum penyelesaian bergantung pada antara kurs forward awal dan kurs yang tersedia untuk periode kontrak yang tersisa. Perlakuan akuntansi untuk instrumen mata uang asing lainnya yang dibahas mirip dengan perlakuan untuk kontrak forward. Perlakuan akuntansi yang dibahas disini didasarkan pada sifat berdasarkan aktivitas lindung nilai, yaitu : apakah derivative melindungi nilai komitmen perusahaan, transaksi yang akan terjadi, investasi bersih pada operasi luar negeri, dan sebagainya. Kesulitan dalam pengukuran nilai wajar dan perubahan dalam nilai instrumen lindung nilai terjadi apabila derivatif keuangan tidak diperdagangkan secara aktif.

G. Pengungkapan
Sebelum dikeluarkannya standar seperti FAS 133 dan IAS 39, pengungkapan keuangan perusahaan tidak memberitahu kepada pembaca apakah atau sejauh mana manajemen telah menggunakan kontrak derivatif. Pengungkapan yang diwajibkan oleh FAS 133 dan IAS 39 sedikit banyak telah menyelesaikan masalah. Pengungkapan itu antara lain:
1) Tujuan dan strategi manajemen risiko untuk melakukan transaksi lindung nilai,
2) Deskripsi pos-pos yang dilindung nilai,
3) Identifikasi risiko pasar dari pos-pos yang dilindung nilai,
4) Deskripsi mengenai instrumen lindung nilai,
5) Jumlah yang tidak dimasukkan dalam penilaian efektivitas lindung nilai,
6) Justifikasi awal bahwa hubungan lindung nilai tersebut akan sangat efektif untuk meminimalkan risiko pasar,
7) Penilaian berjalan mengenai efektivitas lindung nilai aktual dari seluruh derivatif yang digunakan selama periode berjalan.

Ø Kendali Keuangan
Dalam hal strategi manajemen risiko keuangan harus mengevaluasi efektivitas program lindung nilai. Timbal balik dari sistem evaluasi yang sedang berjalan akan membantu untuk menyusun pengalaman kelembagaan dalam praktik manajemen risiko. Penilaian kinerja program manajemen risiko juga menghasilkan informasi mengenai kapan strategi yang sudah  ada tetapi sudah tidak tepat untuk dilakukan kembali.

H. Acuan Yang Tepat
Objek dari manajemen risiko adalah untuk mencapai keseimbangan antara pengurangan risiko dan biaya. Dengan demikian, standar yang tepat digunakan untuk menilai kinerja aktual merupakan bagian yang diperlukan dalam setiap sistem peniaian kinerja. Dalam manajemen risiko valas, pertanyaan-pertanyaan berikut ini harus dipertimbangkan ketika hendak memilih sebuah acuan, diantaranya ;
Ø Apakah acuan yang tepat mewakili suatu kebijakan yang seharusnya diikuti ?
Ø Apakah acuan ini dapat diperjelas di bagian awal ?
Ø Apakah acuan ini memberikan strategi dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan alternatif lainnya ?.
Jika program manajemen risiko valas tersentralisasi, maka acuan yang tepat dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan program perlindunngan risiko perusahaan merupakan program yang dapat diimplementasikan oleh manajer setempat. Dalam kasus lain, perusahaan yang menolak risiko valas secara otomatis mungkin melakukan lindung nilai terhadap kemungkinan risiko luar negeri yang mungkin dihadapi melalui pasar forward dalam mata uang lokal. Strategi ini sekaligus merupakan acuan alamiah digunakan untuk menilai manajemen risiko keuangan.

I.     Contoh Perusahaan yang Menerapkan Manajemen Risiko keuangan
Perusahaan Coca-Cola menggunakan instrumen keuagan derivatif terutama untuk mengurangi potensi risiko terhadap fluktuasi dalam tingkat suku bunga dan kurs valas yang merugikan, dan dlaam beberapa hal, fluktuasi harga komoditas yang merugikan dan risiko pasar lainnya. Perusahaan Coca-Cola tidak menggunakan instrumen derivatif untuk tujuan diperdagangkan. Sebagai bagian dari kebijakan, seluruh posisi derivatif yang kami miliki digunakan untuk mengurangi risiko dengan melakukan lindung nilai terhadap potensi risiko ekonomi yang mendasar. Karena tingginya korelasi antara instrument lindung nilai dan potensi risiko yang mendasari, fluktuasi dalam nilai instrument umumnya diimbangi dengan perubahan resiprokal dalam nilai potensi risiko yang terkait. Namun dalam kenyataannya, seluruh derivatif perusahaan Coca-Cola merupakan instrumen langsung, over-the-counter dengan pasar yang likuid.

REFERENSI :
Frederick D.S. Choi, dan Gary K. Meek, International Accounting, Buku 2 Edisi 5.  Jakarta: Salemba Empat,2005.


Penulisan ini adalah salah satu tugas untuk memenuhi mata kuliah Akuntansi Internasional.

Ditulis Oleh : A. Anggraini & A. Putrisari
Dosen : Jessica Barus

Universitas Gunadarma

Sabtu, 16 April 2016

TUGAS 3 SEMESTER 8

PERKEMBANGAN, PENGUNGKAPAN & PELAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEBELUM DAN SETELAH PENERAPAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARD (IFRS)

A.  International Financial reporting Standard (IFRS)
IFRS adalah standar,interpretasi dan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan (dengan tidak adanya standar atau interpretasi) yang diadopsi oleh dewan standar akuntansi internasional. Di sisi lain IFRS adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi keuangan (Dewangga, 2010). Struktur IFRS (International Financial Reporting Standarts) mencakup:
1) International Financial Reporting Standards (IFRS) yaitu standar yang diterbitkan setelah tahun 2001. 
2) International Accounting Standards (IAS) yaitu standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001. 
3) Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) yakni setelah tahun 2001. 
4) Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) yakni sebelum tahun 2001. International Accounting Standards atau yang lebih dikenal sebagai  International Financial Reporting Standard (IFRS), merupakan standar tunggal  pelaporan akuntansi yang memberikan tekanan pada penilaian (revaluation) profesional yang kuat dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai  substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu,

IFRS diterbitkan sebagai upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kerangnya transparasi informasi keuangan. Adapun tujuan penerapan IFRS adalah:
1. Memastikan bahwa laporan keuangan internal perusahaan mengandung informasi berkualitas tinggi.
2. Transparasi bagi penggina laporan dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna
4. Meningkatkan investasi.

Sedangkan manfaat dari adanya suatu standar global, antaralain :
1. Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Standar pelaporan keuangan berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi lokal.
2.  Dapat membuat keputusan yang lebih baik.
3. Perusahaan – perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan mengenai merger dan akuisisi.
4.Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standar dapat disebarkan dalam mengembangkan standar global yang berkualitas tinggi.

Kewajiban untuk menggunakan IFRS bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa efek (listed companies) merupakan salah satu perubahan paling signifikan dalam sejarah regulasi akuntansi (Daske dkk., 2008). Telah lebih dari 100 negara mengadopsi IFRS. Regulator berharap bahwa penggunaan IFRS dapat meningkatkan komparabilitas laporan keuangan, meningkatkan transparansi perusahaan dan kualitas pelaporan keuangan sehingga menguntungkan investor.

Pada kenyataannya, pelaksanaan IFRS tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa kendala maupun tantangan yang dihadapi dan masalah ini berbeda disetiap negara. Kartikahadi (2012) menyatakan permasalahan yang dihadapi Indonesia diantaranya adalah frekuensi perubahan IFRS yang relatif sering melakukan revisi atas standar yang dikeluarkannya. Sedangkan perlu waktu dan uang yang cukup untuk memahami dan mengaplikasikan sebuah standar akuntansi. IFRS menjadi sebuah tantangan baik dalam hal tantangan budaya, politik, dan hukum(Rezaee,dkk.,2010). Tantangan utama dari mengadopsi IFRS adalah biaya yang berkaitan dengan adopsi. Ini meliputi biaya untuk pelatihan staff/pendidikan dan penerapan informasi sistem teknologi.

B. Perkembangan IFRS di Indonesia
Lembaga profesi akuntansi IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menetapkan bahwa Indonesia melakukan adopsi penuh IFRS pada 1 Januari 2012. Namun penerapan IFRS telah dimulai secara bertahap dengan penerapan 19 PSAK dan 7 ISAK baru yang telah mengadopsi IAS/IFRS mulai 1 Januari tahun 2010.2 Konvergensi IFRS ini merupakan salah satu kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota forum G-20, dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Strategi adopsi yang dilakukan untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan-tahapan tertenu. Strategi ini digunakan oleh negara-negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. PSAK dikonvergensikan secara penuh dengan IFRS di Indonesia melalui tiga tahapan yaitu :

Adopsi penuh IFRS diharapkan dapat meningkatkan kualitas informasi akuntansi yang terdiri atas manajemen laba, relevansi nilai laba dan relevansi nilai buku (Francis et al, 2004).

Dengan mengadopsi IFRS ini, Indonesia diperkirakan akan memperoleh manfaat sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).
2. Mengurangi biaya SAK.
3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
5. Meningkatkan transparansi keuangan.
6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.
7. Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.
  
IFRS memiliki karakteristik, diantaranya :
1. IFRS menggunakan “Principles Base “ sehingga lebih menekankan pada intepreatasi dan aplikasi atas standar sehingga harus berfokus pada spirit penerapan prinsip tersebut.
2. Standar membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas ekonomi.
3. Membutuhkan proffesional judgment pada penerapan standar akuntansi.
4. Menggunakan fair value dalam penilaian.
5. Mengharuskan pengungkapan (disclosure) yang lebih banyak

C. Pengungkapan Pelaporan Keuangan Perusahaan Sebelum dan Setelah IFRS
Sebelum IFRS
Sebelum digunakannya International Financial Reporting Standards (IFRS), akuntansi di Indonesia menggunakan menggunakan prinsip historical cost yaitu merupakan jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diserahkan atau memperoleh asset pada saat perolehan atau konstruksi, atau jika dapat diterapkan jumlah yang dapat distribusikan langsung ke asset pada saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu (PSAK 19, revisi 2009). Kelemahan dari historical cost adalah kurang mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Hal ini biasanya memungkinkan peluang pihak menejemen untuk melakukan manajemen laba.

Setelah IFRS
Dampak adopsi IFRS pada laporan keuangan perusahaan dan pada manajemen perusahaan menunjukan IFRS memiliki dampak positif terhadap laporan keuangan, peningkatan ekuitas perusahaan, dan manajemen perusahaan menjadi lebih bertanggungjawab (accountable).
IFRS menekankan konsep nilai wajar. Nilai wajar itu sendiri berdasarkan FASB Concept Statement No. 7 adalah harga yang akan diterima dalam penjualan aset atau pembayaran untuk mentransfer kewajiban dalam transaksi yang tertata antara partisipan di pasar dan tanggal pengukuran. Penggunaan konsep IFRS akan berdampak terhadap laporan keuangan dan kinerja keuangan perusahaan karena terdapat perbedaan pengukuran terhadap nilai item-item laporan keuangan itu sendiri yang sebelumnya menggunakan konsep historical cost. Dibawah ini terdapat perbedaan antara pelaporan keuangan perusahaan sebelum dan setelah penerapan IFRS.
Tabel 1: Perbedaan Pelaporan Keuangan Perusahaan Sebelum dan Setelah Penerapan IFRS
Setelah IFRS
Sebelum IFRS
Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :
-          Laporan posisi keuangan (neraca)
-          Laporan laba rugi komprehensif
-          Laporan perubahan ekuitas
-          Laporan arus kas
-          Catatan atas laporan keuangan
-          Laporan posisi keuangan komparatif awal periode dan penyajian retrospektif terhadap penerapan kebijakan akuntansi
Komponen laporan keuangan lengkap terdiri atas :
-          Neraca
-          Laporan laba rugi
-          Laporan perubahan ekuitas
-          Laporan arus kas
-          Catatan atas laporan keuangan
Pengungkapan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) :
Aset :
-          Aset tidak lancar
-          Aset lancar
Ekuitas :
-          Ekuitas yang dapat diatribuskan ke pemilik entitas induk
-          Hak non pengendali
Liabilitas :
-          Liabilitas jangka panjang.
-          Liabilitas jangka pendek
Pengungkapan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) :
Aset :
-          Aset tidak lancar
-          Aset lancar
Ekuitas :
-          Ekuitas yang dapat diatribuskan ke pemilik entitas induk
-          Hak non pengendali
Liabilitas :
-          Liabilitas jangka panjang.
-          Liabilitas jangka pendek
Penyajian liabilitas jangka panjang yang akan dibiayai kembali :
-          Liabilitas jangka panjang disajikan sebagai liabilitas jangka pendek jika akan jatuh tempo dalam 12 bulan meskipun perjanjian pembiayaan kembali sudah selesai periode pelaporan dan sebelum penerbitan laporan keuangan.
           
Penyajian liabilitas jangka panjang yang akan dibiayai kembali :
-          Tetap disajikan sebagai liabilitas jangka panjang
Pengakuan dan pengukuran :
-          Biaya historis.
-          Biaya sekarang ( apa yang harus dibayar hari ini untuk mendapatkan aset. Ini sering diperoleh dalam penilaian yang sama dengan nilai wajar).
-          Nilai realisasi (jumlah kas yang dapat diperoleh saat ini jika aset dilepas).
-          Nilai wajar.
-          Pengakuan pendapatan.
-          Pengakuan beban.
-          Pengungkapan penuh
Pengakuan dan pengukuran :
-          Biaya historis
-          Pengakuan pendapatan
-          Pengakuan beban
-          Pengungkapan penuh

D. Pengungkapan dan Pelaporan Tahunan Terbaik Periode 2015
Laporan keuangan merupakan bahasa yang digunakan oleh komunitas bisnis. Bahasa bisnis tersebut disusun berdasarkan standar akuntansi yang merupakan aturan-aturan pengukuran untuk laporan keuangan. Dalam perkembangannya, terdapat banyak dan berbedanya standar akuntansi yang berlaku sehingga menimbulkan masalah keterbandingan laporan keuangan. Kondisi ini tentu dapat dipahami karena dalam proses penyusunan standar akuntansi di suatu negara tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lokal suatu negara (Wolk et al., 2001: 4)

Pentingnya laporan keuangan dimana memberikan informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil – hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan, dapat lebih berarti bagi pihak – pihak yang berkepentingan apabila laporan keuangan diperbandingkan untuk dua periode atau lebih dan dilakukan analisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang lebih jelas dalam mendukung keputusan yang akan diambil. Selain itu, dengan menganalisa laporan keuangan suatu perusahaan, akan diperoleh semua jawaban yang berhubungan dengan masalah posisi keuangan dan hasil – hasil yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

Tujuan utama laporan keuangan dibuat dan disajikan, ada 2, yaitu: (1) Untuk memberikan informasi tentang posisi dan hasil kinerja keuangan perusahaan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (investor, kreditur, dan pemerintah) dalam rangka membuat keputusan-keputusan bisnis., dan (2) Untuk menunjukkan pertanggung-jawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Sebuah laporan keuangan dikatakan baik dan memenuhi persyaratan bila disusun sedemikian rupa sehingga kedua tujuan tersebut bisa dicapai.

Sebagai lembaga keuangan terpercaya dan terbesar di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan acara penganugerahan Annual Report Award (ARA) 2014, Jakarta, Selasa (22/9). Acara ini diadakan dengan tema “Akuntabilitas dan Transparansi Informasi Memenangkan Persaingan Bisnis dalam Era Integrasi Ekonomi ASEAN”. ARA terselenggara atas kerja sama tujuh instansi penyelenggara, yaitu Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian BUMN, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, Komite Nasional Kebijakan Governance, PT Bursa Efek Indonesia, dan Ikatan Akuntan Indonesia.

Annual Report Award (ARA) merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2002 yang melakukan penilaian terhadap kualitas penyajian informasi dalam Annual Report sebuah perusahaan. Tidak hanya semata-mata pengungkapan dalam Laporan Tahunan, Annual Report Award bertujuan untuk mendorong penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Pada  tanggal 22September 2015, diselenggarakan acara penganugerahan Annual Report Award (ARA) 2014. ARA 2014 merupakan penyelenggaraan yang ke-14, dengan mengangkat tema “Akuntabilitas dan Transparansi Informasi untuk Memenangkan Persaingan Bisnis dalam Era Integrasi Ekonomi ASEAN”. Sejalan dengan tema ini, kualitas keterbukaan informasi dalam laporan tahunan diharapkan dapat terus meningkat untuk dapat menunjang pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan perbaikan dalam transparansi informasi, yang merupakan salah satu pilar GCG diyakini akan meningkatkan kesadaran perusahaan untuk menerapkan pengelolaan perusahaan dengan baik serta meningkatkan kesiapan perusahaan di Indonesia untuk bersaing, tidak hanya di lingkup nasional, tetapi juga di kawasan regional dan bahkan secara global. Sebagaimana yang selama ini telah dilakukan, ARA terselenggara atas kerjasama 7 (tujuh) instansi penyelenggara, yaitu Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian BUMN, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, Komite Nasional Kebijakan Governance, PT. Bursa Efek Indonesia, dan Ikatan Akuntan Indonesia.

Peserta ARA 2014 berjumlah 294peserta yang terdiri dari 274 perusahaan, 17 Dana Pensiun dan 3 Bank Perkreditan Rakyat. Jumlah peserta meningkat 13% dibandingkan peserta tahun lalu yaitu 261 perusahaan. Apabila dilihat perkembangan peserta sejak pertama kali ARA diselenggarakan tahun 2002 hingga saat ini, maka mengalami peningkatan sampai dengan 227%.

Gelaran ARA ini sendiri bertujuan untuk membangun daya saing ekonomi Indonesia untuk menyongsong integrasi ekonomi Asean 2014 melalui transparansi informasi, dengan indikator yang utama dalam menilai pemenang dilihat dari aspek implementasi good corporate governance (GCG). Sehingga, para pelaku pasar (investor) bisa memberikan kepercayaannya di pasar tanah air. Selain itu, ARA bermanfaat demi kemajuan perusahaan dan sebagai media komunikasi yang efektif kepada semua pihak untuk menjelaskan tentang kinerja dan prospek perusahaan di masa mendatang,
Daftar Pemenang Annual Report Award 2015 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
No
Kategori
Peringkat
Nama Perusahaan
1
BUMN Non Keuangan Listed
Juara Umum
PT Aneka Tambang (Persero) Tbk
2
BUMN KEUANGAN LISTED
1
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
3
2
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
4
3
PT Bank Tabungan Negara(Persero) Tbk
5
BUMN  NON KEUANGAN LISTED
1
PT Aneka Tambang (Persero) Tbk
6
2
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk
7
3
PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
8
BUMN  KEUANGAN  NON LISTED
1
PT Asuransi Jasa Indonesia (Pesero)
9
2
Perum Jaminan Kredit Indonesia
10
3
PT TASPEN  (Persero)
11
BUMN  NON KEUANGAN NON LISTED
1
PT Pertamina (Persero)
12
2
PT Angkasa Pura II (Persero)
13
3
PT Bio Farma (Persero)
14
PRIVATE KEUANGAN  LISTED
1
PT Bank Victoria International Tbk
15
2
PT Bank Central Asia Tbk
16
3
PT Adira Dinamika Multifinance Tbk
17
PRIVATE NON  KEUANGAN  LISTED
1
PT Wijaya Karya BetonTbk
18
2
PT ElnusaTbk
19
3
PTAKR CorporindoTbk
20
PRIVATE KEUANGAN  NON LISTED
1
PT BNI Syariah
21
2
PT Bank Syariah Mandiri
22
3
PT Bank Mayora
23
PRIVATE NON  KEUANGAN  NON LISTED
1
PT Pupuk Kalimantan Timur
24
2
PT Pelayanan Listrik Nasional Batam
25
3
PT Garuda Maintenance Facility Aeroasia
26
BUMD LISTED
1
PT Bank DKI
27
2
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk
28
3
PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur
29
BUMD NON LISTED
1
PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung
30
2
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah
31
3
PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat
32
DANA PENSIUN
1
Dana Pensiun Bank Indonesia
33
2
DPLKPT Bank Mandiri (Persero) Tbk
34
3
Dana Pensiun Bank Rakyat Indonesia


REFERENSI :
         Ari Dewi Cahyati, 2011. “Peluang Manajemen Laba Pasca Konvergensi IFRS: Sebuah Tinjauan Teoritis Dan Empiris”, Jurnal JRAK Vol. 2, No. 1. UNISMA. (Diakses pada, 15 April 2016. 10:18 WIB).
        Ferry Danu Prasetya, 2012. “Perkembangan  Standar Akuntansi Keuangan Di Indonesia”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, VOL. 1, NO. 4. Unika Widya  Mandala. (Diakses pada, 15 April 2016. 13:00 WIB).
      Natalia Titiek Wiyani, S.Pd. “Standarisasi, Harmonisasi dan Konvergensi IFRS (International Finance Reporting Standar and Practices)”. (Diakses Pada, 16 April 2016. 16:41 WIB).
   Nur Cahyonowati, dan Dwi Ratmono. “Adopsi IFRS dan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi”.Universitas Diponegoro. (Diakses Pada, 14 April 2016. 11:56 WIB).
       Nyoman Trisna Herawati. “Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Akuntansi Pengantar Di Perguruan Tinggi”. Universitas Pendidikan Ganesha. (Diakses Pada, 16 April 2016. 12:55 WIB).
         Sianipar, Glory Augutsa. 2013. Analisis Komparasai Informasi Akuntansi Sebelum dan Sesudah Pengadoposian Penuh IFRS di Indonesia. Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013. (Diakses Pada 17 April 2016. 09:59 WIB)
         Sigit Hermawan, dan Ety Nur Zunaida, 2013. “Analisis Kesiapan Dan Pelaksanaan Perkuliahan Akuntansi Berbasis Konvergensi International International Financial Reporting Standards (IFRS)”, Jurnal Pendidikan Akuntansi, Vol. 1, No. 4. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. (Diakses Pada, 17 April 2016. 04:43 WIB).
      Vergiana Aprilicia, 2014. “Road Map International Financial Reporting Standard (IFRS) dan Implementasinya di Indonesia”. Jurnal JIBEKA Vol. 8, No. 1. Universitas Ma Chung Malang. (Diakses Pada, 15 April 2016. 19:54 WIB).
    Wahyu Hidayat., 2015.“Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Implementasi PSAK Berbasis IFRS”, Universitas Lampung. (Diakses pada , 17 April 2016, 5:49)
       Yona Octiani Lestari. “Konvergensi International Financial Reporting Standards (IFRS) Dan Manajemen Laba Di Indonesia”. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. (Diakses Pada, 16 April 2016. 17:43 WIB).
          Website Resmi OJK: www.ojk.go.id (Diakses pada, 16 April 2016, 17:18 WIB).

Tulisan Ini Adalah Salah Satu Bentuk Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Akuntansi Internasional

Ditulis oleh         : A. Anggraini
Dosen                 : Jessica Barus


UNIVERSITAS GUNADARMA